Industri pengolahan nonmigas menjadi contributor terbesar bagi
pertumbuhan ekonomi nasional dibandingkan sektor-sektor lainnya. BPS mencatat,
industri pengolahan nonmigas mammapu memberikan sumabangan mencapai 18,08
persen pada tri wulan 1 tahun 2017. Sedangkan, untuk kontribusi industri
batubara dan pengiangan mias sekitar 2,39 persen, sehingga sumbangan industri
pengolahan (migas dan nonmigas) terhadap total PDB triwuan ke 1 tahun 2017
mencapai 20,48 persen menurut data Kementrian Perindustrian. Kinerja industri
makanan dan minuman setiap tahun disebut cukup menjanjikan dengan rata-rata
diatas pertumbuhan sektor manfaktur pada triwulan 3 tahun 2017, pertumbuhn
industri makanan dan minuman tercatat sebesar 9,46 persen atau naik dibanding
capaian ditriwulan ke 2 tahun 2017 yang sekitar 7,19 persen.
“sektor ini juga berperan penting dalam memberikan kontribusi
terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri nonmigas.” Kata Mentri
Perindustrian (Menperin), Airlangga Hartanto, dalam siaran pers (Selasa,
7/11/2017).
Selain Mentri Perindustrian, Airlangga Hartanto, Badan Pusat
Statistik (BPS) juga mencatat bahwa industri makanan dan minuman mampu
menyumbang PDB industri nonmigas pada triwulan ke 3 tahun 2017 sebesar 34,95
persen yang mana industri makanan dan minuman ini berkontribusi lebih tinggi
dibandingkan kawan-kawan sjawat lainya. Industri makan dan minuman adalah sektro
yang memiliki prospek cerah untuk dikembangkan di Indonesia. Industri ini
mendorong produksi sektor pertanian dan melalui pengolahan dan penyerapan bahan
baku juga mampu membuka lapangan pekerjaan. Tenaga kerja yang diserap oleh
sektor ini sebanyak 3.316.186 orang atau sebesar 21,34 persen dan pada periode
Januari-September 2017, nilai investasi industri makanan dan minuman mencapai
Rp. 27,9 triliun untuk penanaman modal dalam negeri (PDMN), sedangkan nilai
investasi untuk penanaman modal asing (PMA) sebesar USD1,4 miliar (data mentri
prinsdustrian).
Namun ada suatu kendala yang nyata bila kita menelik lebih dalam
lagi. Seperti yang kita tahu dan yang sudah penulis paparkan sebelumnya bahwa
sektor Industri makanan dan minuman ini merupakan hasil produksi sektor
pertanian. Dengan itu menjadi pertanyaan besar pula bagaimanakah kondisi lahan
pertanian di Indonesia? Luas lahan pertanian di Indonesia terus saja mengalami
penurunan akibat pembukaan lahan untuk tempat tiggal, bangunan-bangunan pabrik
yang mungkin tidak bersahabat dengan alam, dll. Hal ini menyebabkan dilema bagi
Indonesia bagaimanakah Indonesia menghadapi fenomena ini? Menurut opini pribadi
saya seharusnya pemerintah Indonesia dapat memberikan batasan terhadap
pembangunan perindustrian pabrik agar perindustrian ini tidak menggeser sektor
pertanian yang telah jelas memberikan dampak baik bagi pertumbuhan ekonomi di
Industri manufaktur khususnnya dalam bidang makanan dan minuman. Seharusnya
pemerintah juga dapat meningkatkan teknologi pertanian dan juga memberikan
sosialisasi terhadap petani-petani setiap daerah agar mereka dapat menghasilkan
output yang baik lagi berualitas untuk mendorong perekonominan Indonesia yang
memeberikan dampak positif kedepannya. Pemerintah seharusnya jga dapat
memberikan kekhususan produksi terhadap suatu daerah sesuai potensi tanah
daerah yang petani-petani miliki agar menghasilkan output dengan efektif dan
efisien.

Comments
Post a Comment